Reuleut, 24 September 2026 - Dosen Prodi Psikologi Universitas Malikussaleh melaksanakan kegiatan International Community Service (Pengabdian kepada Masyarakat Internasional) pada Kamis, 24 September 2026 dengan tema “Penguatan Psychological Preparedness Masyarakat Reuleut dalam Menghadapi Bencana” yang bertempat di Meunasah Reuleut Timur. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat dengan tujuan memberikan pemahaman mengenai pentingnya kesiapan psikologis dalam menghadapi bencana, mengenali berbagai reaksi psikologis yang dapat muncul selama maupun setelah bencana, serta meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terjadinya bencana.
Kegiatan ini melibatkan Bapak Riza Musni, S.Kp., M.Kes. selaku Ketua Jurusan Psikologi, Ibu Yulia Nanda Safitri, S.Psi., M.Psi. selaku Koordinator Program Studi Psikologi, Ibu Nursan Junita, BHSc., MA. Psikolog. sebagai pemateri, Ibu Febriani Rahma, S.Psi., M.Psi., Psikolog, Ibu Maya Lestari, S.Pd., M.Ed, dan Bapak M. Fikri Jaka Pratama, S.Psi., M.Psi. Kegiatan ini juga melibatkan lima mahasiswa, yaitu Gita Audria Tantri, Maharani Dwi Andini, Desya Cucu Fadhilah, Mishkatul Ameerah, dan Putri Yasmin Syahira, dengan Mishkatul Ameerah yang bertugas sebagai Master of Ceremony (MC) dalam kegiatan tersebut. Kegiatan dilaksanakan pada pagi menjelang siang sekitar pukul 10.30–13.00 WIB dan diikuti oleh 16 peserta dari masyarakat Reuleut Timur.
Memasuki kegiatan inti, peserta mendapatkan penyampaian materi mengenai bencana dan berbagai dampaknya, baik secara fisik maupun psikologis. Materi juga membahas perasaan dan reaksi psikologis yang dapat muncul ketika dan setelah mengalami bencana, persiapan menghadapi bencana, kebutuhan yang perlu disiapkan dalam tas siaga bencana, serta Psychological First Aid (PFA) melalui konsep Look, Listen, dan Link. Selain itu, peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya mempersiapkan diri secara psikologis serta beberapa teknik relaksasi sederhana, yaitu breathing exercise, butterfly hug, dan lemon squeeze.
Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menyampaikan pengalaman, pikiran, perasaan, serta tindakan yang telah dilakukan ketika menghadapi bencana. Beberapa peserta menceritakan pengalaman berupa rasa takut, cemas, panik, trauma, serta kekhawatiran apabila bencana kembali terjadi. Peserta juga menyampaikan berbagai bentuk kesiapsiagaan yang telah dilakukan, seperti menyiapkan pakaian dan barang-barang penting, mempersiapkan tempat yang lebih tinggi, serta meningkatkan kewaspadaan ketika terjadi hujan. Selain berbagi pengalaman, peserta juga mengikuti praktik teknik relaksasi yang diberikan selama kegiatan.
Selama kegiatan berlangsung, para peserta terlihat antusias dan interaktif dalam mengikuti rangkaian kegiatan. Peserta tidak hanya menyimak materi yang diberikan, tetapi juga aktif menyampaikan pengalaman dan kondisi yang mereka rasakan ketika menghadapi bencana. Hal tersebut menunjukkan adanya keterlibatan peserta dalam proses kegiatan serta memberikan ruang bagi masyarakat untuk saling berbagi pengalaman mengenai kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.
Secara keseluruhan, pelaksanaan International Community Service dengan tema “Penguatan Psychological PreparednessMasyarakat Reuleut dalam Menghadapi Bencana” berjalan dengan baik dan mendapat keterlibatan aktif dari masyarakat. Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan dapat lebih memahami reaksi psikologis yang muncul ketika menghadapi bencana, mampu mengenali kondisi diri, mempersiapkan kebutuhan dan rencana menghadapi keadaan darurat, serta mengetahui cara memberikan dukungan kepada diri sendiri maupun orang lain. Materi kegiatan juga menekankan pentingnya mengenali perasaan, mempersiapkan diri, menyiapkan kebutuhan, dan saling mendukung dalam menghadapi bencana.